Hari ini saya duduk disini, di sebuah taman di pinggir pantai, melihat sekeliling, menangkap tanda-tanda kebahagiaan dari sudut yang umum dan sempit. Canda tawa dan riuh kebersamaan menjadi tanda hadirnya kebahagiaan ini. Tapi karena kebahagiaan itu ada di hati, maka saya tidak jamin bahwa mata saya tidak tertipu pemandangan ini. Saya juga sedang bahagia, karena saya memiliki waktu luang. Duduk berdua bareng laptopku. Sengaja niat berkhalwat dengan laptop. Sengaja juga saya bawa bekal dari rumah. Sebotol air mineral dan baterai full dalam diri laptopku. Harapanku kebersamaan kami tidak ada yang menganggu, minimal dalam beberapa jam. Mengikuti passion, memacu diriku memegang dan meyakinkan diri atas mimpi kebahagiaan-kebahagiaan lain yang sedang kuperjuangkan.
Kebahagiaanpun menunjukkan wujud fisiknya...
Pas didepanku, sepasang suami istri dan ibunya (sepertinya), sedang duduk bertiga di tempat duduk di bagian lain taman ini. Mereka sedang bahagia. Pasangan ini bahagia, sepertinya ibunyapun demikian. Mengajak orang tua menikmati waktu santai di hari libur kerja. Mungkin pasangan ini memegang prinsip ajaran bahwa cara membuat banyak waktu luang adalah sholat dhuha dan meluangkan waktu bersama orang tua.
Barusan gue bahagia lagi. Pas nulis ini, ada anak kecil minta duit katanya belum makan dari pagi. Entah dia bohong atau tidak saya kasih aja. Saya bahagia masih bisa memberi, bukan meminta seperti dia.
Balik lagi ke pemandangan kebahagiaan di depan saya. Sebelahnya lagi nampak bapak-bapak dan ibu-ibu muda lagi nungguin anaknya main mainan di lokasi taman ini. Ada yang ayunan, ada yang perosotan, dan lain-lain. Kalo anak-anaknya yang lagi main jelas bahagia, karena mereka kemungkinan belum ahli menyembunyikan kesedihannya. Bapak-bapak dan ibu-ibu itu tampak bahagia juga. Mungkin mereka penganut paham, bahwa meluangkan waktu untuk anak itu lebih berharga dari pada mencurahkan materi.
Di sebelah kanan, di pinggir pantai. Ada dua orang pemuda berbicara serius, sambil membuat coretan-coretan kecil pada secarik kertas. Susah ditafsirkan apa yang mereka lakukan. Bisa saja mereka sedang mengkonsep surat cinta untuk pacar-pacar mereka. Bisa juga lagi mengkonsep lamaran pekerjaan. Atau mereka sedang membicarakan bisnis plan mereka. Nah yang terakhir terdengar paling oke.
Di sudat yang lain tampak pasangan pemuda pemudi berduaan, sang pemudi menggelayut manja di pundak pemuda di sampingnya. Pertanyaannya, apakah mereka sudah menikah? Gak usah dijawab, itu pertanyaan spontan karena terlalu banyak nonton infotainment. Anggep aja pasangan itu baru menikah dengan cara taaruf. Dan setelah menikah ini mereka baru merasakan manisnya percintaan. So sweeet.....
Ada pemandangan bahagia lainnya. Pedagang yang berhasil menjajakan dagangannya kepada para pengunjung di taman ini.
Banyak energi positif di tempat ini. Termasuk saya. Tambahkan dengan energi positif kita, maka kita akan mendapat energi dan semangat yang berlipat.
Dan saya masih disini, sedang bahagia, karena masih membuat langkah kecil memperjuangkan kebahagiaan-kebahagiaan lainnya...
Selamat mencari hikmah
@yudhiburhan
Jumat, 28 Februari 2014
Selasa, 17 Desember 2013
Hati yang tenteram
Kebetulan nih, Alloh tunjukkan hidayah kepada saya untuk dapat ilmu. Tadi pas sholat shubuh di masjid kebetulan ada kultum oleh Ustadz. Ridwan Husen. Kebetulan saya lagi gak males-males banget, jadi bisa sholat shubuh berjamaah di masjid, sekalian dengerin kultum beliau. Jadi untuk memperbanyak manfaaat, saya share di blog.
Beliau mengawali dengan anjuran untuk selalu mengkaji alquran di pagi hari. Beliau sampaikan bahwa mengkaji Al-Quran saat fajar, sangat mudah masuk ke dalam fikiran dan hati kita dan memberikan energi positif sepanjang hari. Al-Quran ini akan langsung dapat menasehati ke dalam jiwa kita. Lebih mudah dibandingkan orang lain menasihati kita. Minimal satu ayat sehari Tilawahnya boleh banyak, tapi harus tahu artinya minimal 1 ayat sehari. Kalau yang punyanya cuma terjemahan gak papa, kalau yang punya tafsir lebih bagus. Kita baca artinya saja. Resapi. Anggap segala yang dikatakan Alloh dalam Al-Quran itu adalah buat kita. Yak, langsung hanya buat kita. Seperti orang langsung menasehati kita. Lalu kesankan dalam hati. Kalau setiap hari kita lakukan, akan lebih mudah kita akan mendapat ilmu. Hidayah dan ilmu itu masuk ketika kita khusyuk, tentunya akan mudah kalo situasinya juga mendukung, dan fajar adalah waktu yang pas.
Beliau kajikan mengenai Tafsir surat Yunus ayat 7 (QS, 10:7)
arti ayatnya begini:
"Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengaharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan mersa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan (kehidupan itu), dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat kami"
Beliau sampaikan bahwa akan bayak orang akan memiliki kecenderungan tidak mau/ menolak bertemu dengan Alloh. Dalam berbagai cara. Setiap segala aktivitas mendekat kepada Alloh akan selalu terasa tidak menentreramkan. Sungguh hanya dunia yang membuatnya tenteram. Segala aktivitas untuk mencari dunia, mengalahkan segalanya, layaknya anak-anak main bola lupa segalanya. Aktivitas bekerja mencari uang sampai melupakan panggilan Alloh untuk sholat 5 waktu. Aktivitas mencari hiburan setelah seharian bekerja melupakan ibadah-ibadah di sepertiga malam dan fajar. Dan mereka tenteram dengan itu. Ketika kita tersibukkan dunia tetapi kadang masih resah karena belum sholat, itu berarti masih belum masuk dalam kategori orang yang menolak bertemu Alloh. Orang kategori sebagaimana dalam ayat tersebut sudah tidak ada keinginan bertemu dengan Nya. Mereka enjoy sekali dengan dunia. Seperti sudah tertutup pintu kesadarannya. Dan mereka lalai akan ayat-ayat Alloh. Ayat ini bisa yang tertulis di Al-Quran dan alam semesta ini. Segala kejadian apapun sudah tidak kemudian membuat ia ingat kepada Alloh. Segala kejadian dianggap kebetulan, sebab akibat, hasil jerih payah, dll. Padahal seharusnya ketika kita dibacakan ayat-ayat Alloh maka bertambahlah iman kita, membesarlah keyakinan kita akan Alloh. Dan di Neraka jahannamlah tempat kembali mereka.
Naudzubillimin dhalik.
Beliau tekankan bahwa bertemu Alloh adalah nikmat terbesar. Sekaya dan sesenang apapun orang di dunia, mereka akan lebih senang dan bahagia menyicip Syurga. Padahal sebahagia apapun orang di syurga, manusia kan lebih bahagia bertemu Alloh dan senantiasa menatap wajahnya yang kekal. Karena ruh kita adalah ruh Alloh yang ditiupkan kepada kita. Dan segala kerinduan kita akan terbayar sempurna dengan senantiasa memandangi wajahnya, ALloh azza wa jalla.
Sekian dan selamat mencari hikmah
Follow twitter saya @yudhiburhan
Beliau mengawali dengan anjuran untuk selalu mengkaji alquran di pagi hari. Beliau sampaikan bahwa mengkaji Al-Quran saat fajar, sangat mudah masuk ke dalam fikiran dan hati kita dan memberikan energi positif sepanjang hari. Al-Quran ini akan langsung dapat menasehati ke dalam jiwa kita. Lebih mudah dibandingkan orang lain menasihati kita. Minimal satu ayat sehari Tilawahnya boleh banyak, tapi harus tahu artinya minimal 1 ayat sehari. Kalau yang punyanya cuma terjemahan gak papa, kalau yang punya tafsir lebih bagus. Kita baca artinya saja. Resapi. Anggap segala yang dikatakan Alloh dalam Al-Quran itu adalah buat kita. Yak, langsung hanya buat kita. Seperti orang langsung menasehati kita. Lalu kesankan dalam hati. Kalau setiap hari kita lakukan, akan lebih mudah kita akan mendapat ilmu. Hidayah dan ilmu itu masuk ketika kita khusyuk, tentunya akan mudah kalo situasinya juga mendukung, dan fajar adalah waktu yang pas.
Beliau kajikan mengenai Tafsir surat Yunus ayat 7 (QS, 10:7)
arti ayatnya begini:
"Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengaharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan mersa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan (kehidupan itu), dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat kami"
Beliau sampaikan bahwa akan bayak orang akan memiliki kecenderungan tidak mau/ menolak bertemu dengan Alloh. Dalam berbagai cara. Setiap segala aktivitas mendekat kepada Alloh akan selalu terasa tidak menentreramkan. Sungguh hanya dunia yang membuatnya tenteram. Segala aktivitas untuk mencari dunia, mengalahkan segalanya, layaknya anak-anak main bola lupa segalanya. Aktivitas bekerja mencari uang sampai melupakan panggilan Alloh untuk sholat 5 waktu. Aktivitas mencari hiburan setelah seharian bekerja melupakan ibadah-ibadah di sepertiga malam dan fajar. Dan mereka tenteram dengan itu. Ketika kita tersibukkan dunia tetapi kadang masih resah karena belum sholat, itu berarti masih belum masuk dalam kategori orang yang menolak bertemu Alloh. Orang kategori sebagaimana dalam ayat tersebut sudah tidak ada keinginan bertemu dengan Nya. Mereka enjoy sekali dengan dunia. Seperti sudah tertutup pintu kesadarannya. Dan mereka lalai akan ayat-ayat Alloh. Ayat ini bisa yang tertulis di Al-Quran dan alam semesta ini. Segala kejadian apapun sudah tidak kemudian membuat ia ingat kepada Alloh. Segala kejadian dianggap kebetulan, sebab akibat, hasil jerih payah, dll. Padahal seharusnya ketika kita dibacakan ayat-ayat Alloh maka bertambahlah iman kita, membesarlah keyakinan kita akan Alloh. Dan di Neraka jahannamlah tempat kembali mereka.
Naudzubillimin dhalik.
Beliau tekankan bahwa bertemu Alloh adalah nikmat terbesar. Sekaya dan sesenang apapun orang di dunia, mereka akan lebih senang dan bahagia menyicip Syurga. Padahal sebahagia apapun orang di syurga, manusia kan lebih bahagia bertemu Alloh dan senantiasa menatap wajahnya yang kekal. Karena ruh kita adalah ruh Alloh yang ditiupkan kepada kita. Dan segala kerinduan kita akan terbayar sempurna dengan senantiasa memandangi wajahnya, ALloh azza wa jalla.
Sekian dan selamat mencari hikmah
Follow twitter saya @yudhiburhan
Selasa, 03 Desember 2013
Merantau
Ada yang berniat merantau?
Atau memang sekarang anda perantau?
Atau jangan-jangan anda anti merantau?
Apapun pilihan anda sah-sah saja.
Merantau itu apa ya? Saya juga belum pernah baca dan tahu persis apa pengertiannya. Cuman menurut KBYB atau Kamus Besar Yudhi Burhan, merantau saya artikan dengan pergi meninggalkan kampung halaman dengan waktu yang cukup lama untuk tujuan tertentu.
Aktivitas merantau ini tidak terjadi dengan sendirinya. Selalu ada faktor yang mendorongnya. Ada yang memang didorong oleh budaya, seperti daerah-daerah di Sumatera. Kepercayaannya adalah setiap laki-laki dalam keluarga harus merantau untuk memperbaiki kehidupan keluarga. Lain lagi dengan budaya orang Jawa yang cenderung mempunyai prinsip "mangan-ra mangan, ngumpul" atau Bahasa Indonesianya makan nggak makan yang penting kumpul. Sehingga Orang Jawa cenderung tidak suka merantau, kecuali ada faktor lain yang mendorong. Sehingga kemudian sekarang di belahan daerah manapun selalu ditemui orang marantau. Orang Padang, Orang Bugis, Orang Buton, Orang Madura dan juga Orang Jawa dapat ditemui di daerah manapun. Dan memang faktor lain yang tidak kalah penting adalah faktor ekonomi, banyak orang yang merantau untuk mencari penghidupan yang lebih layak. Ada juga yang kemudian disistematiskan, sehingga kemudian munculah program Transmigrasi.
Tapi menurut saya merantau untuk tujuan yang baik banyak hikmahnya. Ustadz saya dulu pernah bilang, merantaulah agar kamu tahu dimana posisimu. Maksudnya gini, mungkin di kampung kita kita termasuk orang yang paling alim. Keadaan ini membuat kita lengah. Dan setelah kita pergi ke tempat lain, ternyata di tempat yang lain, keimanan dan ibadah kita masih kalah jauh. Atau contoh lainnya kita di kampung termasuk orang yang paling miskin, dan keadaan ini membuat kita putus asa dan minder. Dan di daerah yang lain, ternyata masih banyak yang nasibnya tidak seberutung kita.
Hikmah lainnya, dengan merantau kita akan mendapatkan arti pentingnya sebuah keluarga. Misalnya kita merantau meninggalkan orang tua atau saudara, maka dengan merantau kita akan tahu besarnya nikmat ketika bersama, menyesalnya kita atas segala hal yang kurang baik yang telah kita lakukan. Dan kita akan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik ketika kita pulang.
Saya juga pernah merantau. Banyak hikmah yang bisa saya ambil. Ternyata di belahan dunia lain banyak orang yang bisa menjaga Sholat Fardhu Jamaah 5 Waktu di masjid, dan saya berharap bisa mengikuti kebaikan itu. Di belahan dunia lain ternyata banyak orang kurang bisa memberi toleransi atas keberagaman dan kepentingan orang lain, dan saya berharap bisa menjadi orang yang lebih peka dan toleran. Di perantauan ini saya selalu teringat banyak waktu yang dulu saya habiskan di kampung tanpa kebaikan kepada orang tua. Di perantauan saya jadi tahu bahwa seharusnya banyak hal baik yang bisa saya lakukan untuk lingkungan sekitar. Di tempat yang jauh saya bisa lebih mengenal diriku sendiri, dan itu juga berarti aku lebih mengenal diriMu.
Terimakasih, Engkau telah memberikan aku kesempatan merantau. Terimakasih atas segala hikmah, terimakasih untuk segala Hidayah. Dan saya berharap untuk selalu menjadi pribadi yang lebih baik, terutama untuk orang-orang yang paling berarti dalam hidup saya.
Dan saya pernah mendengar kata bijak " Merantaulah, agar kau tahu kenapa harus pulang, agar kau tahu siapa yang kau rindu"
Atau memang sekarang anda perantau?
Atau jangan-jangan anda anti merantau?
Apapun pilihan anda sah-sah saja.
Merantau itu apa ya? Saya juga belum pernah baca dan tahu persis apa pengertiannya. Cuman menurut KBYB atau Kamus Besar Yudhi Burhan, merantau saya artikan dengan pergi meninggalkan kampung halaman dengan waktu yang cukup lama untuk tujuan tertentu.
Aktivitas merantau ini tidak terjadi dengan sendirinya. Selalu ada faktor yang mendorongnya. Ada yang memang didorong oleh budaya, seperti daerah-daerah di Sumatera. Kepercayaannya adalah setiap laki-laki dalam keluarga harus merantau untuk memperbaiki kehidupan keluarga. Lain lagi dengan budaya orang Jawa yang cenderung mempunyai prinsip "mangan-ra mangan, ngumpul" atau Bahasa Indonesianya makan nggak makan yang penting kumpul. Sehingga Orang Jawa cenderung tidak suka merantau, kecuali ada faktor lain yang mendorong. Sehingga kemudian sekarang di belahan daerah manapun selalu ditemui orang marantau. Orang Padang, Orang Bugis, Orang Buton, Orang Madura dan juga Orang Jawa dapat ditemui di daerah manapun. Dan memang faktor lain yang tidak kalah penting adalah faktor ekonomi, banyak orang yang merantau untuk mencari penghidupan yang lebih layak. Ada juga yang kemudian disistematiskan, sehingga kemudian munculah program Transmigrasi.
Tapi menurut saya merantau untuk tujuan yang baik banyak hikmahnya. Ustadz saya dulu pernah bilang, merantaulah agar kamu tahu dimana posisimu. Maksudnya gini, mungkin di kampung kita kita termasuk orang yang paling alim. Keadaan ini membuat kita lengah. Dan setelah kita pergi ke tempat lain, ternyata di tempat yang lain, keimanan dan ibadah kita masih kalah jauh. Atau contoh lainnya kita di kampung termasuk orang yang paling miskin, dan keadaan ini membuat kita putus asa dan minder. Dan di daerah yang lain, ternyata masih banyak yang nasibnya tidak seberutung kita.
Hikmah lainnya, dengan merantau kita akan mendapatkan arti pentingnya sebuah keluarga. Misalnya kita merantau meninggalkan orang tua atau saudara, maka dengan merantau kita akan tahu besarnya nikmat ketika bersama, menyesalnya kita atas segala hal yang kurang baik yang telah kita lakukan. Dan kita akan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik ketika kita pulang.
Saya juga pernah merantau. Banyak hikmah yang bisa saya ambil. Ternyata di belahan dunia lain banyak orang yang bisa menjaga Sholat Fardhu Jamaah 5 Waktu di masjid, dan saya berharap bisa mengikuti kebaikan itu. Di belahan dunia lain ternyata banyak orang kurang bisa memberi toleransi atas keberagaman dan kepentingan orang lain, dan saya berharap bisa menjadi orang yang lebih peka dan toleran. Di perantauan ini saya selalu teringat banyak waktu yang dulu saya habiskan di kampung tanpa kebaikan kepada orang tua. Di perantauan saya jadi tahu bahwa seharusnya banyak hal baik yang bisa saya lakukan untuk lingkungan sekitar. Di tempat yang jauh saya bisa lebih mengenal diriku sendiri, dan itu juga berarti aku lebih mengenal diriMu.
Terimakasih, Engkau telah memberikan aku kesempatan merantau. Terimakasih atas segala hikmah, terimakasih untuk segala Hidayah. Dan saya berharap untuk selalu menjadi pribadi yang lebih baik, terutama untuk orang-orang yang paling berarti dalam hidup saya.
Dan saya pernah mendengar kata bijak " Merantaulah, agar kau tahu kenapa harus pulang, agar kau tahu siapa yang kau rindu"
Yang penting jangan sampai niat baik kita merantau terbelokkan niatnya.
Jangan sampai ada lagi cerita Malin Kundang Jilid II.
Selamat merantau dan mencari hikmah
Selamat merantau dan mencari hikmah
Rabu, 13 November 2013
Air
Kalian tentu pernah
dengar kan air zam-zam?
Betul. Itu air yang
orang biasa bawa dari Mekkah selepas pulang haji. Biasa disajikan waktu orang
menjenguk bpk/ibu haji yang baru saja pulang menunaikan ibadah haji. Udah gitu,
biasa orang masih membawa pulang untuk dimasukkan dalam sumur. Banyak yang bilang kalo air zam-zam ini
berkhasiat dan banyak membawa keberkahan. Banyak orang yang percaya. Dan
kebetulan saya belum pernah bertemu orang yang secara terang-terangan menolak
bahwa air zam-zam berkhasiat.
Ya, sangat wajar
kalo kemudian air ini sangat berkhasiat. Salah satunya karena air ini berasal
dari tempat (Mekkah) dimana doa-doa dipanjatkan, pujian-pujian di haturkan,
serta lantunan ayat suci al-quran diperdengarkan. Dan sifat air adalah penyerap
energi terbaik dari lingkungan sekitarnya. Lingkungan agamis dan penuh kebaikan
di Mekkah ini yang kemudian terserap sehingga menjadi bagian dari air zam-zam
itu sendiri. Saya kemudian mengaitkan kenapa di setiap acara-acara
pembacaan-pembacaan al-quran banyak yang kemudian menaruh air di depan
pembacanya. Oh, berarti orang berusaha memanfaatkan air sebagai media penangkap
berkah dari ayat-ayat al-quran tersebut. Makanya saya kemudian menjadi percaya
hebatnya air ini adalah media penyerap energi terbaik. Kalo anak saya sakit,
sebelum ke dokter saya selalu minta istri saya menbacakan surat alfatihah, al
ikhlas, al-falaq dan annas dan doa kemudian ditiupkan ke air putih, kemudian
saya minumkan ke anak saya. Karena saya yakin doa ibunya dan ayat al-quran
adalah obat penyembuh terbaik buat anak. Dengan keyakinan yang kuat, insya
alloh anak saya sembuh.
Terkait dengan hal
itu, saya pernah membaca artikel bahwa air memang memiliki struktur yang baik
untuk menyerap energi dan ion dari sekitarnya.
Makanya kemudian sebagian besar motivator, trainer, coach, mentor menyarankan
agar kita betul-betul memahami cara kerja tubuh kita yang sebagian besar
terdiri atas air. Kita diharapkan memiliki pikiran, perkataan serta hati yang
baik. Karena pikiran, perkataan serta hati yang baik ini yang akan diserap oleh
air dalam tubuh kita kemudian disebarkan ke seluruh tubuh kita. Kalo apa yang
kita fikirkan, rasakan dan katakan itu baik maka kebaikan ini kan menjalar ke
seluruh tubuh. Badan jadi sehat dan semangat, pikiran tambah jernih dan
perasaan menjadi senang dan tenang. Sebaliknya kalo pikiran, hati dan perkataan
kita selalu negatif, maka efek negatif ini akan menjalar ke seluruh tubuh.
Semua hal dan kejadian akan menjadi terasa gelap,dan kita akan dilingkupi rasa
malas, was-was dan perasaan-perasaan lain yang serupa dengan itu.
Silahkan anda cek
sendiri efeknya. Karena memang demikian sifat air bekerja.
Trust me, it's
work. #Upps....
@yudhiburhan
Jumat, 08 November 2013
Penumpang Baru
Orang yang
beruntung itu adalah orang yang selalu bisa mengambil hikmah dari setiap
kejadian. Baik itu kejadaian baik dan buruk. Kalo ada hikmah baik, maka
kemudian dijadikannya itu teladan bagi keihidupannya. Katika kemudian hikmah
yang diambil adalah tentang keburukan, maka akan menjadi tekat untuk menjauhkan
dari sifat diri. Semoga ada hikmah dari cerita ini.
Pas sholat isya
tadi, seperti biasa saya usahakan selalu sholat berjamaah di masjid.
Alhamdulillah saya termasuk "penumpang langganan" di jamaah masjid itu. Jadi
berdasarkan pengalaman, saya tahu betul siapa "sopir", siapa "kondektur", dan siapa
"penumpang" di masjid itu. Saya bahkan hafal siapa "sopir-sopir" yang setiap sujud
terakhir berdoanya lama sekali, sampai-sampai saya harus memperlambat start
sujud terakhir untuk mempersingkat durasi waktu sujud, karena saya tahu betul
lemahnya iman saya dan ketika menunggu bangun dari sujud yang sangat lama,
dalam hati saya berontak tidak enak. Nah kebetulan tadi pas sholat isya saya
datang sedikit terlambat, tapi sholat berjamaah masih belum mulai. Masih banyak
yang sholat sunnah juga. Saya lihat ada "penumpang baru" yaitu kelompok pemuda
sekitar 6 orangan yang sudah ada di situ lebih dulu. Mungkin singgah dari
perjalanan. Mungkin mereka keburu mau ada urusan lain. Mungkin mereka sudah
lama nunggu. Mereka sepertinya sudah tidak sabar akan segera memulai sholat
jamaah. Sementara kondisinya ada "penumpang tetap" yang lain yang masih sholat
sunnah. Bahkan "sopir tetap" dan beberapa "penumpang" juga baru datang. Karena
tidak sabar mereka langsung mendorong salah satu diantaranya untuk jadi imam,
tanpa memperhatikan jamaah yang lain dan salah satu diantaranya mengumandangkan
iqomah. Beberapa jamaah lain berdiri membuat shof. Beberapa tidak beranjak dari
tempat duduk. Beberapa masih sholat sunnah. Akhirnya sholat juga tidak segera
dimulai karena beberapa jamaah menunggu jamaan lain yang masih sholat sunnah,
yang kebetulan dia adalah "Sopir Tetap" di Masjid itu. Tidak terjadi insiden
apapun setelah itu. Saya cuma melihat beberapa kerlingan kecil dari "penumpang
tetap" yang lain, dan raut muka yang tidak seperti baisa dari "Sopir Tetap" masjid
itu.
Adakah yang salah
dari kejadian ini?
Silahkan simpullkan
sendiri. Saya hanya melihat dan menyampaikan cerita. Tetapi sebagai orang awam,
saya hanya menyimpulkan bahwa keberanian dan kemauan anak kelompok anak muda
ini kurang ditambah kepekaan lingkungan yang lebih saja. Kalo ada kepekaan,
kejadiannya tidak mungkin seperti itu. Satu hikmah lain buat saya, sholat isya
tadi saya tidak mengeluh dalam hati, karena durasi waktu sujud terakhir normal
(menurut kata hati saya). He..
Selamat mencari
hikmah..
@yudhiburhan
Langganan:
Postingan (Atom)