Senin, 09 Januari 2012

Pulanglah ke TuhanMu


Assalamu alaikum
Pernahkah terjadi dalam hari-hari kita, ketika hidup terasa sangat menyesakkan
Permasalahan terasa menghimpit dari segala arah
Hal-hal yang terjadi tidak seperti yang kita bayangkan dan harapkan
Kemudian kita bersedih, berontak
Serta mencari kesalahan-kesalahan kita, kesalahan-kesalahan orang lain
Bahkan kita mengatasnamakan ketidakadilan Tuhan untuk situasi ini..
Na,udzubillah
Sejauh roda dunia berputar, dan ketika situasi ini terus terjadi dan berulang
Saya merasa ada keteraturan, ada semacam korelasi
Situasi ini seringkali terjadi ketika kita ‘sedang’ menjauh dari nilai-nilai agama kita
Karena kita terlena oleh kefanaan dunia
Karena kita sedang disibukkan urusan materi semata
Menurut saya, Ini semacam alarm
Agar kita terbangun dan kembali ke track yang benar, tentunya
Dan pada saat itu taatilah alarm ini
Niscaya kita akan menemukan kebahagiaan.
Percayalah,
Karena dalam tubuh kita ditiupkan ruh Tuhan
Dan sudah menjadi aturan Tuhan, ketika kita beranjak kembali dekat kepadanya, ruh dalam tubuh kita akan bahagia.
ini seperti kerinduan kita akan orang tua dan kampung halaman,
perjalanan mendekat kepada Tuhan memberi kesan rasa yang hampir mirip ketika kita merenung dalam kendaraan yang membawa kita pulang ke orang tua dan kampung halaman.
Kerinduan yang hampir serupa
Kemudian ketuklah pintu, ucapkan penyesalan, sampaikan kerinduan kita kepadaNya
‘maaf Tuhan, beberapa waktu aku melupakanmu’
‘kini aku datang ya Alloh’
‘Rangkul aku ya Alloh, agar aku selalu beriringan denganMu’
Percayalah, soal rejeki dunia kita tidak perlu khawatir
Kalau kita kejar Akhirat, Dunia akan mengikuti
Tetapi, kalau kita kejar Dunia, Akhirat akan menjauh
dan kabar gembiranya adalah:
“segala aturan waktu dunia mengikuti aturan waktu akhirat”
sehingga ketika kita mengikuti aturan waktu akhirat, insya alloh tiak akan mengganggu aturan waktu dunia
itu kalau kita benar-benar percaya dan mengimaninya.
wassalam..



Senin, 28 November 2011

Anugerah Gusti Allah

Assalamu ‘alaikum
Tulisan ini langsung aku posting,
sesaat setelah aku tertegun dan malu, pada saat aku membaca sebuah buku psikologis dan menemukan sebuah karya sastrawan kita yang berjudul

‘Anugerah Gusti Allah’


Sering kali aku berkata,
Ketika orang memuji milikku,
Bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
Bahwa mobilku hanya titipan-Nya,
Bahwa rumahku hanya titipan-Nya,
Bahwa hartaku hanya titipan-Nya,
Bahwa putraku hanya titipan-Nya,

Tetapi,
Mengapa aku tak pernah bertanya,
Mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa DIa menitipkan ini padaku?
Dan kalau bukan milikku,
Apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat,
Ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?

Ketika diminta kembali,
Kusebut itu sebagai musibah,
Kusebut itu sebagai ujian,
Kusebut sebagai petaka,
Kusebut dengan panggilan apa saja
untuk melukiskan bahwa itu adalah derita

Ketika aku berdoa,
Kuminta titipan yang cocok dengan nafsuku,
Aku ingin lebih banyak harta,
Ingin lebih banyak mobil,
Lebih banyak popularitas,
Dan kutolak sakit,
Kutolak kemiskinan,
Seolah semua derita adalah hukuman bagiku,
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti Matematika:
Aku rajin ibadah, maka selayaknya derita menjauh dariku,
Dan nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
Dan bukan kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”
Dan menolak keputusan-Nya yang tidak sesuai keinginanku.

Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan
Hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…

Ketika langit bumi bersatu,
Bencana dan keberuntungan sama saja

‘--ws.rendra—


Aku merasa bahwa aku salah satu yang disentil oleh pengarang.
Karena selama ini aku memang sok religious yang sering berucap seakan selalu memasrahkan segala sesuatu pada Yang Kuasa
Karena aku ternyata sok merasa pemilik dari apa-apa yang melekat di hidupku
Karena ternyata aku ini memang penggenggam dunia nomer 1
Dan ternyata aku ini memang seperti pedagang yang secara matematis menghitung untung-rugi tentang hak dan kewajibanku kepada yang Kuasa
Aku selalu ingin mendapatkan hak berupa kebaikan tanpa ada keburukan(menurut saya) sama sekali, ketika aku merasa sudah rajin ” mendekat kepadaNya”
Tapi apa seperti itu yang benar-benar disebut “mendekat kepadaNya”
Saya yakin BUKAN………………
Na’udzubillahi min dzalik

Selasa, 26 Juli 2011

Bagaimana membalasnya?

Baru akhir-akhir ini saya benar-benar merasa..
Merasakan kebahagiaan …..
Memiliki orang tua yang selalu mencintai saya, membesarkan saya sampai seperti sekarang
Memaafkan setiap kesalahan saya, mencukupi apa yang saya inginkan
Memaklumi setiap kelakuan saya, menuntun batin saya menjadi dewasa dengan doa-doa
Dengan apapun dan bagaimanapun cara mereka, ternyata itu semuanya untuk saya
Merasakan penyesalan …..
Atas semua pemberontakan masa lalu pada mereka, atas kekeras kepalaan terhadap nasehat mereka
Atas semua beban yang mereka pikul karena saya, Atas kebutaan mata hati dengan cinta kasih mereka
Ya Tuhan……
Disaat usia senja mereka, dimana (menurut saya)mereka sangat butuh keberadaan saya
Ternyata saya tidak ada…
Bagaimana membalas segala kebaikan mereka..
Cukupkah sedikit rupiah yang coba kita berikan untuk membalas budi mereka
Cukupkan sebaris doa yang coba kita ucapkan untuk keselamatan dan kebahagiaan mereka
Cukupkah…
Bahkan jika kita merasa mampu dan ingin mencoba menuruti semua keinginan mereka,
keinginan mereka ternyata tidak pernah berubah, hanya ingin anak-anaknya bahagia
Saya yakin mereka tidak menginginkan balasan dari saya atas cinta kasih mereka
Dan saya yakin saya tidak akan mungkin bisa membalasnya
Selalu kumohonkan kepada-Mu untuk cinta kasih-Mu kepada mereka, ampunan-Mu atas khilaf mereka, karena hanya Engkau Maha Pemberi Balasan yang Sempurna
Dengan memohon petunjuk dari Alloh, saya tetap berharap akan ada seribu jalan untuk membalas kebaikan mereka, selamanya….
Kagem Bapak Moh.Rosyidi dan Simbok Sakinem di rumah
Sembah sungkem dari anakmu
Untuk teman burhan semua, terutama yang merasakan sama seperti apa yang saya rasakan, mohon saran dan share pengalaman kalian
Burhan

Kamis, 21 Juli 2011

Kabau Pantai (Sulabesi Barat, Kepulauan Sula, Maluku Utara)

Sama sekali tidak pernah terfikir untuk mampir ke tempat ini, mimpipun tidak. Tapi ini nyata. Ternyata saya tidak hanya mampir, tapi sempat singgah dan bermalam disana. Kabau Pantai namanya, sebuah ibukota Kecamatan Sulabesi Barat, Kabupaten Kepulauan Sula, Provinsi Maluku Utara. Sebenarnya Kecamatan ini bukan yang paling jauh diantara kecamatan lainnya di Kabupaten Kepulauan Sula, karena masih ada Sulabesi Selatan yang jaraknya paling jauh. Namun saat ini karena akses jalan utama menuju Sulabesi Barat sedang rusak, maka Kecamatan Sulabesi Baratlah yang paling jauh. Yang kita bicarakan perpindahan tentunya, bukan jarak. Sebenarnya jaraknya sekitar 50 km dari ibukota Kabupaten Kepulauan Sula di Sanana. Rute ini yang tadi saya bilang jalan utama yang rusak. Rute ini start dari Sanana – Sanana Utara – Sulabesi Barat. Namun jalan yang sekarang bisa diakses adalah rute Sanana – Sulabesi Tengah – Sulabesi Selatan – Sulabesi Barat. Perkiraan saya lebih dari 70 km perpindahannya. Tapi yang pasti waktu tempuh yang saya butuhkan untuk sampai ke Kabau pantai adalah 8 jam dengan kendaraan sepeda motor. Karena saya berangkat jam 9 pagi dan sampai di sana jam 5 sore. Medannya adalah, jalan berbatu dan tanah sejauh 30 km, jalan tanah merah memotong gunung sejauh 20 km, dan jalan setapak sepanjang pantai yang di beberapa titik diantaranya jalan terputus sungai sejauh 20 km. Sejauh ini kita masih berbicara wilayah Kecamatan saja. Sedangkan Kabupaten Kepulauan Sula sendiri (kalau menurut peta saya) berjarak 3.390 km dengan waktu tempuh dengan kapal laut selama 17 jam dari Ternate (Pusat kota di Maluku Utara). Dan mungkin semua sudah tahu seberapa jauh Ternate dari Jakarta (Ibukota Negara Kita).
Kabau Pantai mungkin salah satu diantara banyak tempat serupa di Indonesia. Eksotis, indah, dan sayangnya penuh dengan keterbatasan. Karena saya cuma disana 2 hari maka masih tercampur suasana piknik dalam benak saya. Jadi tidak begitu terasa menyedihkan. Keterbatasannya adalah kondisi jalan menuju ke sana yang tidak layak, letaknya yang jauh dari pusat ekonomi dan pemerintahan, harga-harga mahal karena harus menanggung transport yang jauh, belum terjangkau listrik, belum terjangkau sinyal telekomunikasi, keterbatasan akses informasi, keterbatasan sarana dan prasarana, dan masih banyak keterbatasan lainnya. Maka saran saya jangan mencoba dibayangkan dengan membandingkan dengan beberapa kota di Medan, Jogjakarta, apalagi Jakarta. Bukan suatu perbandingan yang setara tentunya.
Alhamdulillah saya sempat bencengkrama dengan pemilik rumah tempat saya menumpang bermalam, dan berbicara dengan beberapa orang saat saya numpang sholat di masjid setempat. Tertangkap dalam nurani saya, aroma kekecewaan, keputus-asaan dalam keterbatasan. Tertangkap aroma iri ketika mereka membandingkan dengan pembangunan di daerah lain. Banyak pesan yang disampaikan kepada saya agar pemerintah memperhatikan nasib mereka. Pesannya mungkin salah alamat bila disampaikan kepada saya, karena saya bukan siapa-siapa. Tapi mungkin pesan itu yang selalu disampaikan kepada semua orang yang singgah, terutama orang jawa. Karena mungkin mereka tidak tahu lagi harus menyampaikan pada siapa. Tapi apapun maksud pesan itu, saya cuma bisa ikut mendoakan.
Untuk temanburhan semua, saya cuma mengajak diri saya dan temanburhan semua yang berada di suatu tempat yang lebih baik dari tempat ini sudah selayaknya banyak bersyukur atas segala kemudahan yang bisa setiap saat kita akses. Bagi teman-teman di Kabau Pantai, tetap semangat, dimana saja adalah Bumi Alloh. Alloh punya skenario terbaik untuk kalian.
Burhan.

Selasa, 28 Juni 2011

Kuadran uang dan waktu…

Saat kini kita boleh saja tengah berkutat dalam pekerjaan maupun bisnis dalam kita mencari penghidupan. Mungkin kita adalah seorang pegawai, baik pemerintah maupun swasta, atau kita adalah seorang pebisnis. Semuanya ini dilakukan, tentunya untuk mencukupi kebutuhan hidup, disamping memang menjadi kewajiban manusia untuk berusaha dalam menjaga kelangsungan hidupnya. Atau mungkin ada diantara kita yang mungkin belum beruntung mendapat pekerjaan.
Bebarapa indikator yang harusnya kita pertimbangkan dalam mencari/menciptakan pekerjaan tentu saja masalah waktu dan hasil (uang/pendapatan). Seorang motivator bisnis mengelompokkan aktivitas mencari pendapatan berdasar 2 faktor diatas, sebagai berikut:

Kuadran I (sedikit waktu, sedikit uang)
Orang dalam kuadran ini adalah orang yang bekerja/berbisnis tidak dengan perencanaan yang matang, dan cepat menyerah. Bisa jadi orang ini adalah pekerja keras. Orang ini mungkin telah mencoba banyak ide mencari rejeki secara serampangan dan cepat bosan. Karena kurangnya perencanaan, maka tahap-tahapnya juga mungkin tidak efektif dan menyita banyak waktu dan biaya. Dan ketika bertemu masalah, secara tergesa-gesa akan menjalankan ide lainnya, tanpa mengambil pelajaran kegagalan sebelumnya. So, income pun tidak berhasil diraih, padahal waktunya sudah habis terbuang.
Kuadran II (sedikit waktu, banyak uang)
Termasuk dalam kuadran ini adalah pekerja keras yang tekun dan pantang menyerah. Termasuk didalamnya pebisnis yang menjalankan usahanya sendiri, sehingga dialah owner dan worker dalam usahanya. Hampir semua waktunya dihabiskan untuk pekerjaan dan usahanya. Karena kerja kerasnya, hasil yang didapat pun bisa jadi maksimal. Namun karena dia kerjakan sendiri, ada kalanya akan mencapai titik maksimal sejauh kemampuan fisiknya. Dan sayangnya lagi, dia tidak memiliki banyak waktu untuk yang lainnya, misalnya untuk keluarga, masyarakat, social, refresing, dll. Selain itu dia kondisi ini beresiko vakum income, misalnya ketika sakit, atau di hari tua yang sudah tidak memungkinkan untuk dia terus bekerja.
Kuadran III (banyak waktu, sedikit uang)
Inilah kuadran para pemalas, dan penghayal tingkat tinggi. Seluruh waktunya digunakan untuk bermalas-malasan, senang-senang dan hura-hura. Mungkin juga termasuk disini orang cerdas yang banyak ide, namun hanya dibayangkan, tanpa pernah mencoba direalisasikan. Orang ini selalu mempunyai banyak waktu luang dalam hidupnya, bahkan untuk menghitung berapa jumlah bulu dalam tubuhnyapun dia punya cukup waktu. Tapi income NOL BESAR.
Kuadran IV (banyak waktu, banyak uang)
Bisa gak kita membayangkan, kita punya banyak waktu luang tapi uang/pendapatan tetap mengalir terus ke kantong kita. Mungkin gak? Kata orang bisa dengan memelihara tuyul atau lainnya untuk mencari uang, dan kita tinggal ongkang-ongkang kaki sambil baca Koran, minum kopi, merokok, dan nyiulin burung murai batu diteras rumah (tentu bukan konteks ini yang kita bahas). Keyword kuadran ini adalah “investasi”. Bisa saja kita mulai dari kudran II. Kita awali dari berja keras atau bisnis yang serius. Kembangkan bisnis anda, percayakan manajerial pada karyawan, sehingga anda punya banyak waktu untuk memperlebar bisnis anda atau mencari bisnis yang lain. Bekerja dengan giat juga bagus namun jangan lupa investasikan untuk barang/ asset yang memberikan keuntungan sendiri, sehingga disaat nanti ada waktunya kita tidak harus selalu terbebani bekerja untuk mencukupi kebutuhan. Kurangi kewajiban, perbanyak asset. Belilah tanah, emas yang nilainya terus naik. Deposito atau piutangkan uang anda. Dan yang lebih hebat lagi, investasikan uang anda untuk usaha. Buat toko kelontong, berkebun pala, ternak sapi, dll. Pilihlah usaha yang bisa didelegasikan manajemennya pada karyawan, sehingga nantinya anda punya banyak waktu. Kalo itu bisa berhasil banyak kentungannya; anda punya banyak waktu untuk keluarga dan masyarakat, passive income anda besar karena usaha anda bisa dilipat-gandakan sehingga tercapai kebebasan financial, dan anda telah menciptakan lapangan pekerjaan bagi yang lain. Mulia dan menyenangkan bukan?
Mana yang paling enak? Kalau aku bilang kok kuadran IV.
How about you?
Share to me…
Burhan